BUDAYA UNIK SUKU SASAK: APA ITU KEMALIQ?
Penulis: Angelie Ade Kantari
Pulau Lombok adalah sebuah pulau di kepulauan Sunda Kecil atau Nusa Tenggara yang terpisahkan oleh Selat Lombok dari Bali di sebelah barat dan Selat Alas di sebelah timur dari Sumbawa. Pulau Lombok memiliki suku yang bernama suku Sasak. Suku Sasak adalah suku bangsa yang mendiami pulau Lombok dan menggunakan bahasa Sasak. Orang suku Sasak yang mula-mula mendiami pulau Lombok menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa sehari hari. Pulau Lombok terkenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid, karena memang memiliki masjid yang banyak dengan jarak yang dekat. Lombok terbagi menjadi empat wilayah, yakni Lombok Timur, Lombok Utara, Lombok Tengah, dan Lombok Barat. Mataram sebagai pusat kota NTB yang terletak di Pulau Lombok, tepatnya bagian Lombok Barat. Setiap wilayah memiliki kabupaten, kecamatan, dusun, dan lain-lain. Dari setiap sudut Lombok memiliki kebudayaan tersendiri dan terbilang cukup unik latar belakangnya.
Kebudayaan yang terdapat di suku Sasak sendiri salah satunya adalah Kemaliq. Kemaliq merupakan salah satu budaya yang bisa dibilang cukup unik dan masih diterapkan oleh beberapa orang Sasak asli sebagai tempat melakukan kegiatan kebudayaan. Kemaliq adalah tempat yang sakral dan disakralkan oleh masyarakat. Kemaliq juga bisa dikatakan sebagai prasasti orang Sasak dimana kemaliq itu menjadi bukti bahwa leluhur kita memang orang Islam.
Mimin mendatangi sebuah dusun yang bernama Dusun Ranget dan mewawancarai Bapak Septori Wirawan selaku kepala dusun di sana. Beliau lahir di Ranget pada tanggal 2 September 1984 dan saat ini berusia 37 tahun. Bapak Septori adalah orang berpengaruh di sana yang masih menjaga keunikan budaya kemaliq yang ada di dusun tersebut.
“Satu contoh kemaliq besar di sini (di Lombok) adalah Bayan, Masjid Adat Bayan itu kemaliq. Artinya kemaliq itu adalah tempat yang dimana ketika kita datang ke sana tidak boleh memiliki niat yang lain (macam-macam). Karena memang kemaliq itu adalah salah satu tempat kosmos bumi. Anggap saja kemaliq terbesar di bumi adalah Ka’bah. Karena kemaliq ini adalah budaya, jelas suku lain tidak akan tahu. Jadi, kalau kita bicara budaya pasti kita bicara suku, karena kemaliq itu hanya ada di Sasak. Dimana pun budaya itu berkembang pasti ada dasar akidahnya, demikian juga dengan tradisi kemaliq itu sendiri.” Tutur Bapak Septori Wirawan selaku Kepala Dusun Ranget menjelaskan tentang beberapa contoh kemaliq yang ada di Lombok. Memang tidak sedikit yang menganggap bahwa kemaliq ini adalah suatu ritual yang syirik oleh warga setempat. Akan tetapi, jika terus dikaji mengenai struktur dari budaya kemaliq itu sendiri secara agama, maka tidak ada unsur syirik yang terletak di dalamnya.
Dari 240 jiwa penduduk yang berada di Dusun Ranget saat ini tidak semua dari mereka yang mau melestarikan kebudayaan kemaliq tersebut dikarenakan mereka masih menganggap bahwa kemaliq itu sebagai sesuatu yang bid’ah. Padahal kemaliq merupakan budaya orang sasak yang seharusnya dijaga dan dipelihara oleh orang sasak sendiri. Ada beberapa larangan yang tidak boleh dilakukan ketika datang ke tempat tersebut, larangan itu berupa tidak boleh memiliki niat lain selain dengan niat yang baik kepada Allah SWT, tidak boleh melakukan hal-hal buruk selama berada di tempat itu, dan bagi para wanita yang sedang haid tidak dianjurkan untuk masuk ke dalam kemaliq tersebut. Jika ada yang melanggar larangan tersebut dipercaya akan mendapat kesialan.
Mengapa dusun tersebut disebutkan sebagai Dusun Kemaliq Ranget? Karena Kemaliq Ranget ini dahulu sebagai tempat berkumpul untuk melakukan roah. Roah adalah suatu acara hajatan untuk berdoa bersama. Kemaliq di Dusun Ranget ini merupakan tempat untuk berzikir, berdoa, dan kegiatan agama lainnya. Pada hakikatnya, seluruh tempat yang berada di Bumi ini adalah masjid atau tempat beribadah. Asalkan tempat itu tidak kotor dan najis. Acara roah yang dilakukan di sana adalah guna untuk mempererat tali silaturahmi dan memanjatkan puji syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Mereka akan berkumpul di satu tempat dan akan saling mengenalkan sanak saudara mereka pada orang-orang yang berkumpul di acara roah tersebut. Dengan adanya acara roah tersebut, diharapkan masyarakat Ranget mengetahui seluk beluk keluarganya.
Banyak hal yang telah merubah Kemaliq Ranget saat ini. Itulah mengapa Kepala Dusun, Bapak Septori masih mempertahankan ajaran dan melestarikan kemaliq guna menjaga silaturahmi masyarakat Dusun Ranget. Meskipun beberapa anggapan yang mengatakan bahwa kemaliq ini adalah sesuatu yang salah, sebagai konteks budaya kita harus sama-sama mengkaji dan memahami kemaliq sebagai suatu kebudayaan yang dimana merupakan implementasi dari ajaran agama, begitu pun sebaliknya.
Di zaman sekarang, para anak muda sudah terlalu jauh terlena dengan kemajuan teknologi saat ini. Mereka bahkan hampir tidak mengenali budaya daerah sendiri karena terkadang orang tua lalai untuk memperkenalkan budaya sendiri. Bisa dikatakan bahwa budaya kemaliq ini hampir pudar di kalangan para pemuda dan pemudi di suku Sasak ini. Dengan demikian, sebagai generasi muda dan generasi penerus, kita tidak dapat acuh terhadap budaya daerah sendiri yang hampir hilang. Sudah sepatutnya kita kembali melestarikan dan mengenalkan budaya ini untuk anak cucu kita nantinya sebagai penyambung generasi ke generasi. Hal ini agar bukti-bukti budaya yang pernah ada tidak pernah terputus dan tetap memiliki identitas budaya yang utuh.
Gimana nih, sobat readers? Kalian paham, kan, betapa pentingnya kita tetap mengingat dan menjaga suatu kebudayaan bahkan jika kebudayaan itu masih minor dilakukan oleh beberapa orang lainnya. Mimin harap kita dapat menjadi generasi penerus yang tak luput dari budaya tanah air kita sendiri.
Okee segini dulu yaa tulisan yang dapat mimin sampaikan pada sobat readers sekalian. Semoga ke depannya mimin dapat terus menulis pada blog ini dan bisa bermanfaat bagi kita semua. Aamiin... Bye bye~
*Yuk, bantu mimin membagikan tulisan ini agar orang lain juga tahu mengenai kebudayaan kita. Jangan lupa share dan komentar yang membangun yaa supaya mimin makin semangat menulis ke depannya!
Waah artikel sangat bagus, menambah wawasan
BalasHapusMakasii sudah mampir di blog mimin, sobat!
HapusKerenn, Terima kasih informasinya
BalasHapusTerimakasih kembali sobat, semoga bisa bermanfaat yaa!
HapusWah keren padahal saya belum membacanya
BalasHapusWah rugi banget, ayo dibaca biar menambah pengetahuan sobat readers!
HapusWahh kerennnππ
BalasHapusMakasi sudah mampir di blog mimin, sobat! Semoga bermanfaat yaa
HapusBanyak ilmu dari artikel ni. Seharusnya hal-hala yang berbau tradisi baik itu sakral maupun tidak seperti kemaliq ini, perlu diperjuangkan sih, karena itu secara tidak langsung menjadi identitas dari suatu suku. Dan juga perlu dicarikan cara agar bisa beradaptasi agar ttp bisa selaras dengan zaman.
BalasHapusBenar nih sobat readers! Oleh karena itu kita sebagai generasi milenial harus melestarikan dan mengenalkan budaya kita agar tidak terlupakan oleh zaman. Terimakasih sudah mampir di blog mimin yaa sobat!
Hapusπππ
BalasHapusThank you ππ»
Hapuskeren, terimaksih infonya
BalasHapusTerimakasih kembali sobat! Semoga bermanfaat buat kita semua yaa
HapusTulisan yang sangat menarik dan bisa menambah wawasan, terimakasih informasinya ☺
BalasHapusSemoga bisa bermanfaat yaa sobat readers. Terimakasih kembali sudah mampir di blog mimin
HapusWow.. sangat menarik untuk dibaca. Ini sangat menambah wawasan terutama untuk masyarakat sasak sendiri.
BalasHapusTerimakasih atas informasinya.
Semoga bermanfaat yaa sobat!!
HapusMantap, artikelnya sangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih semoga bisa bermanfaat untuk kita semua
HapusMantap, tulisan yang menambah wawasan π
BalasHapusTerimakasih sobat, semoga bisa bermanfaat untuk kita semua
Hapuswahh bagus, semangat yaa
BalasHapusEemng el ini pikiran yang terkemas bisa membuat distraksi utuh bagi pembaca khususnya saya. Semangatπͺ
BalasHapusWkwkwk terimakasih banyak sobat readers, semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk kita semua yaa!
HapusMantap
BalasHapus