CERITA DIBALIK KUIL ANGKER
Cerita Dibalik Kuil Angker
By: Angelie Ade Kantari
Matahari baru saja menenggelamkan warnanya yang kemerahan, hendak berganti dengan gelapnya malam. Adzan Maghrib berkumandang mengudara dari kejauhan. Dimana seharusnya tak boleh seorang pun berkeliaran jika sudah memasuki waktu tersebut. Rumah-rumah tertutup rapat, pintu harus terkunci, jendela pun jangan sampai ketinggalan. Dipercaya jika sudah masuk waktu Maghrib para makhluk halus mulai beraktivitas untuk mencari mangsanya terutama pada anak-anak. Orang-orang tua menyebutnya dengan, sandikale. Ya, memang begitu seharusnya. Tetapi, nasib sial menimpa lima orang bocah yang dilanda penyesalan.
Mereka saling menatap satu sama lain. Di tengah lapangan yang temaram di bawah lampu jalan, beberapa laron terbang seperti menari-nari pada naungan cahaya redup tersebut. Belum lagi perasaan kalut yang menyelimuti mereka. Cerita berawal ketika ke-lima bocah ini asyik bermain bola, bolos mengaji. Satu diantaranya menjadi kiper dan sisanya merebut bola untuk dimasukkan ke dalam gawang botak tanpa jaring. Tak sengaja salah seorang anak menendang bola terlampau keras hingga akhirnya bola yang seharusnya mencetak gol, malah meleset dan melambung tinggi hingga masuk ke dalam sebuah tempat yang dilarang warga setempat untuk di masuki. Angker, biasa di sebut orang pada umumnya. Dimana tempat itu adalah dulunya sebuah kuil pada masa penjajahan Jepang dan dijadikan sebagai tempat kegiatan keagamaan.
Konon kuil itu sebenarnya mengajarkan aliran sesat oleh beberapa orang Jepang yang menetap di Lombok saat itu. Dimana mereka menggunakan siluman berwujud wanita paruh baya yang wajahnya hancur sebagai Dewa Pelindung mereka. Siluman itu sering meminta tumbal pada para pengikutnya sebagai sesembahan agar mereka tetap mendapatkan keuntungan dan kejayaan. Hal yang paling mengerikan adalah siluman menyukai anak-anak berusia 5-10 tahun. Itulah mengapa warga pribumi selalu menyembunyikan anak-anak mereka ketika senjakala telah tiba. Sebab disitulah sang siluman berkeliaran mengincar anak-anak yang masih berada di luar rumah saat adzan Maghrib.
Eren berdiri dan menepuk tangan, “Cukup dongengnya. Sekarang biarkan aku mengambil bola itu ke dalam kuil. Kau terlalu banyak bercerita Annie. Lihat si Armin sudah sangat gemetar ketakutan.”
“Tapi kau belum mendengar bagian serunya, Eren!” Annie memaksa Eren untuk kembali duduk.
“B-bagaimana kalau kita pulang saja? Lagi pula ini sudah masuk waktu Maghrib, benar? B-bolanya kita beli baru saja.” Armin setengah mati mengatur pita suaranya yang tersendat-sendat.
“Aku setuju.” Ucap Mika.
“Aku juga,” timpal Levi.
Eren seperti anak yang baru saja merasa dikhianati oleh temannya. Mereka berjanji untuk mengembalikan bola milik Erwin—sedang sang pemilik tidak tahu bolanya dipinjam karena Erwin masih mengaji—belum lagi jika mereka pulang sekarang, maka mereka akan ketahuan jika bolos mengaji, sebab tempat mereka ngaji selesai setelah shalat Isya’. Kini mereka bilang akan menggantikan bolanya Erwin padahal sudah berjanji untuk mengembalikan bersama.
“Waktu kita habis hanya untuk perdebatkan hal ini. Jika kalian tak mau, biar aku sendiri. Pulang saja sana sendiri! Kalian pengecut! Hanya percaya takhayul yang diceritakan oleh Annie si tukang jahil!”
Tanpa berkata dan berpikir panjang, Eren berlari meninggal keempat temannya memasuki tempat angker tersebut. Mika hendak menyusulnya, namun ditahan oleh Levi. Katanya, “Biarkan saja anak keras kepala dan sok berani itu masuk ke sana. Kita tunggu di sini, jika terjadi apa-apa, kita pakai rencana B.”
“Rencana B?” Annie bertanya.
“Kabur.” Ujar Levi santai.
Mau tidak mau mereka akhirnya memutuskan untuk menunggu Eren. Mereka berlima adalah teman akrab yang tak bisa terpisahkan—begitu kata teman-teman sebayanya. Yang paling tua adalah Levi, usianya 10 tahun. Meskipun berusia 10 tahun, ia lebih pendek dari Eren dan teman seusianya yang lain. Lalu Eren dan Mika berusia 9 tahun, Eren adalah anak paling bandel dan keras kepala tetapi ia tidak pernah meninggalkan temannya. Mika selalu ada di mana pun Eren berada (kecuali saat di rumah). Kemudian si jahil Annie berusia 8 tahun. Terakhir ada Armin yang sangat penakut tetapi dia yang paling cerdas dari yang lain meski usianya baru saja 7 tahun.
15 menit kemudian terdengar teriakan Eren memecah lengang dan membuat mereka terkejut. Tidak ada siapa pun di sana kecuali 4 orang bocah yang merinding. Tiba-tiba saja Mika berlari ke arah kuil tersebut.
“JANGAN MIKA!! EREN SUDAH DIMAKAN OLEH SILUMAN ITU! KITA HARUS BERGEGAS KABUR DAN BERITAHU YANG LAIN KALAU EREN SUDAH DIMAKAN!” Levi teriak sekuat tenaga untuk menghentikan Mika, namun Mika tak mengindahkannya.
“Sial!” umpat Annie, “Sekarang bagaimana? Aku tidak mau mati, aku tidak mau dimakan. Bagaimana ini Levi?!”
“Bukannya salahmu mengajak kita bolos?! Andai saja kita mengaji saat ini Eren tidak akan dimakan! Saat ini pasti kita semua baik-baik saja! Kamu pikir aku mau dimakan siluman?!?” Armin berteriak di tengah isaknya. Kakinya sudah lemas jika diajak untuk kabur.
“Dasar cengeng! Itulah kenapa aku selalu tak mau mengajakmu main bersama! Mungkin sebentar lagi kau akan pipis di celana karena ketakutan. Menjijikkan!”
Tangis Armin semakin membesar karena diejek Annie. Levi berusaha menenangkan Armin dan mencoba untuk berbicara pada Annie agar tak menyalahkan siapa pun. Tak lama kemudian Mika keluar dengan wajah ketakutan setengah mati. Sebelah tangannya menggenggam sebuah sandal. Benda itu milik Eren.
“K-kau benar, dia sudah dimakan. Hanya ini barang yang tersisa dari Eren.” Mika memperlihatkan sebelah sandal milik Eren. “Dan...”
“Dan apa?” Levi tak sabaran.
Mika dengan susah payah menelan salivanya, “A-aku... A-aku, si-siluman....”
“Bicara yang jelas! Ada apa denganmu!?” Annie semakin emosi, sedang Armin tak ingin mendengarnya, ia menutup telinganya.
“Si-siluman,” Mika mengatur napas yang menderu, “Aku melihatnya! Aku melihatnya! Wajah hancur itu mengerikan! A-ayo pergi dari sini! Beritahu yang lain.”
Tiba-tiba suasana menjadi senyap. Menyisakan suara jangkrik dan laron yang beterbangan, menambah hal mistis melingkupi tempat itu. Jangankan untuk berlari, bahkan nyali untuk melangkah saja sudah tiada. Rengekan Armin terhenti, mungkin saat ini ia setengah pingsan. Mika sudah melihatnya, hanya soal waktu mereka akan menjadi santapan yang selanjutnya. Tak ada lagi yang berani buka suara. Kini yang berada dalam pikiran mereka adalah bayangan kematian dan sosok siluman yang berwujud wanita paruh baya dengan wajah hancur tersebut.
15 menit lagi berlalu dengan suasana yang masih sama seperti sebelumnya. Mereka memasang indra pendengaran yang tajam, bahkan jika ada jarum jatuh pun telinga mereka siap untuk mendengarnya. Tapi ini bukan suara jarum jatuh, ini suara langkah kaki. Langkah yang mengendap secara perlahan, namun pasti. Langkah yang tak memakai alas kaki sedang menuju ke arah mereka. Seolah hendak menjemput ajal 4 bocah ingusan nakal yang seharusnya pergi untuk mengaji. Menunggu dengan degup jantung yang sudah seperti lari berkilo-kilo meter. Inilah hukumannya. Semua berpikir begitu. Saat suara langkah itu terhenti tepat di belakang mereka. Saat itulah kesadaran Armin sudah hilang. Segala doa terlatunkan pada mulut kecil itu. Sebentar lagi, mereka akan dilahap habis oleh siluman durjana itu.
“Oi, kenapa, sih? Bolanya sudah ketemu. Ayo, pulang! Sebentar lagi pengajian sudah selesai.” Suara familiar anak bandel menusuk gendang telinga yang sudah terpasang dengan tajam.
“H-HANTUU!! KAMU HANTU EREN! TOLONG JANGAN GANGGU KAMI! PERGILAH DENGAN TENANG! HUSH HUUUSHHH!” Annie dan Levi menggerakkan tangannya untuk mengusir sosok Eren yang berdiri dengan air muka kebingungan.
“Tunggu, dia memang Eren. Dia bukan hantu,” ucap Mika yang sedang mencubit pipi Eren. Akhirnya Annie dan Levi berhenti menggerakkan tangannya.
“Tapi, bagaimana bisa kau masih hidup, Eren?” tanya Mika dengan bulir air di netranya bahwa ia bersyukur jika temannya masih ada.
“Pertanyaan macam apa itu? Bangunkan bocah yang tengah pingsan itu. Akan kuceritakan sambil kita jalan pulang.” Ucapnya sambil melangkah dan mengambil sebelah sandalnya yang dibawa Mika.
Bersambung...
Kereen, ditunggu kelanjutannya
BalasHapusNantikan part 2, ya!
HapusKeren banget kak ell🥰
BalasHapusWah terimakasih banyak!!
Hapusbgus crtnya
BalasHapusTerimakasih ya
HapusSekalian aja taruh Titan mbak ...
BalasHapusBtw bagus ceritanya
Wkwkwk nantikan part 2 mungkin ada titannya 😂
HapusWaaah keren👍🤗
BalasHapusAku takut liat kuil
BalasHapusBagus bgt alur ceritanyaa👏
BalasHapusGilaaa mantap bener, btw kata bersambung sangat menyebalkan yaa
BalasHapusHahaha, makasi banyak sobat. Nantikan part 2 ya!
HapusMantap
BalasHapusMau komen, biar sukses 2 tahun lagi
BalasHapusAamiin! Semoga sukses ya!
HapusCeritanya kereeeenn, ditunggu part selanjutnya ya...
BalasHapusOkee tunggu part selanjutnya
Hapuswaaaw lnjut ya ka d tunggu ceritanya
BalasHapus